Dan ia pun akhirnya bersuara,
tolong sampaikan nada yang terdengar di telinga hati
dan juga tarian yang terlihat di mata jiwa.

bersama dawai yang bersuara
ku sampaikan semua iramanya,
ku sampaikan suara dawai hati dan jiwa.

-ifan, 2005-

Jari jari yang berbicara

jari ini mulai lemah untuk menuliskan lebih banyak kalimat yang ceria. walau bukan suatu keharusan, tapi bila harus kembali melanjutkan cerita yang menyedihkan, akan terasa sangat menyakitkan. Tapi cerita yang seperti apa lagi yang harus aku tuliskan?? senyum.. bukanlah senyum yang seutuhnya. tawa.. tapi hanya untuk menyembunyikan pahitnya kenyataan.
sampai aku pun lupa bagaimana caranya untuk tertawa yang benar-benar lepas. apa aku sudah membutuhkan terapi untuk itu? :/ heh.. mungkin aku bisa tertawa dengan melihat keadaan aku yang sekarang. terjepit dalam satu dilema yang membuat aku lupa bagaimana caranya tersenyum. ha.. ha..... ..ha.
tapi seharusnya aku bangga.. ternyata aku memiliki kisah hidup yang lebih menarik dibanding kebanyakan orang. hanya saja, aku belum tau bagaimana cara menikmatinya. mungkin hanya lewat jari jari ini, aku bisa mengungkapkan semuanya. mungkin hanya lewat jari jari ini.. aku mulai bisa menikmati semuanya. mungkin lewat jari jari ini juga.. aku temukan jawabannya.
mungkin...

Titik hitam

berbingkai dalam malam tak berbatas
terbungkam sepi dan tak bergeming
kau berjalan dalam ragu dan bimbang
biarkan semua tertulis dalam ceritamu

kau tersenyum dan biarkan hati bersuara
titik yang tak pernah tampak pun terkuak
Diam! Aku ingin semua bungkam
dengarkan cerita itu dengarkan dengan hatimu

Jenuh,bukan satu halaman baru dalam dongengmu
kerasnya hidup pun bukan satu lawan baru
terkekang dan tak bisa melawan
terkurung dalam sempitnya titik hitam

Lukisan dan Lukisan

sebingkai lukisan di tepi jalan
terlihat indah dari kejauhan
goresan kuas bukanlah hiasan
ialah kiasan yang tuangkan perasaan

setitik noda pada cerita
berikan sentuhan baru pada kanvasnya
terlihat begitu manis pada awalnya
yang selalu buramkan pahitnya

dan,berkatalah dalam isyarat
atas semua noda-noda yang tertutupi
menjadikan alasan dalam kesendiriannya
sang pelukis yang diam dalam renungan

terus merayu alam untuk turunkan takdirnya
berbicara dalam bahasa cinta dan pengharapan
untuk dia yang berbicara dan mendengarkan
"ah sudahlah,sepertinya ini akan selalu terulang"

Newer Posts Older Posts Home