Dan ia pun akhirnya bersuara,
tolong sampaikan nada yang terdengar di telinga hati
dan juga tarian yang terlihat di mata jiwa.

bersama dawai yang bersuara
ku sampaikan semua iramanya,
ku sampaikan suara dawai hati dan jiwa.

-ifan, 2005-

Sajak Kerinduan

wajah murung yang hanya sebagai figuran
yang beku dalam gelapnya nuansa.
yang diam tertunduh lesu,
yang bertanya selalu dalam lubuk hatinya,
mungkinkah besok aku bisa melihat matahari yang lebih terang.
tanpa tertutupi kabut tebal seperti kemarin?
mungkinkah ada rembulan yang bersinar cerah malam ini?
cerah seakan bertahta diatas atap rumahku?
oh dawai dawai yang bersuara
bunyikan lagi suara keceriaan yang dulu selalu kau lagukan
bersama tarian tarian surga yang bergemulai mengitari taman hati sang bidadari.
oh.. indah sekali. mungkin kah akan seperti itu lagi?

0 Komentar ««:

Newer Post Older Post Home